Monday, October 31, 2011

KEPEMIMPINAN YANG DEMOKRATIS

KEPEMIMPINAN YANG DEMOKRATIS
Dalam masyarakat luas, tidak semua dapat menjadi pemimpin. Hanya orang-orang tertentu saja diangkat atau dipilih menjadi pemimpin dan yang lainnya menjadi orang yang dipimpin. Sebagai orang-orang yang dipimpin, kita harus pula menghormati pemimpin kita, dan sedapat mungkin bersama-sama pemimpin itu kita bergerak memajukan organisasi kita atau masyarakat kita. Demikian pula pemimpin harus berusaha, bekerja sebaik mungkin mengemban tugas kepemimpinannya agar dapat memenuhi harapan-harapan anggota yang dipimpinnya.
Pola kepemimpinan yang demokratis merupakan model yang patut menjadi sorotan zaman ini. Manusia menuntut satu sistem kepemimpinan yang lebih baikdan kerjasama yang dapat menguntungkan semua pihak dalam lingkungan organisasi.
A. Idealisme individu.
Pola kepemimpinan yang demokratis bertolak dari idealism kebudayaan kita. Itu sesuai perkembangan dan kebutuhan zaman kita. Tujuan utama ialah untuk menggarisbawahi tujuan kita, maksud masyarakat kita, dan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kita. Tiga dari idealism ini amat relevan dan fundalmental dihubungkan dengan kepeminpinan yang demokratis itu.
Idealisme yang pertama menjelaskan harkat dan martabat manusia sebagai satu individu. Manusia dalam hal ini menduduki urutan utama dalam lingkup kepemimpinan, baru lah kemudian menyusul benda material, termasuk teknologi dan peralatan lainnya. Segala urutan dan proses kepemimpinan harus lebih mengutamakan manusia. Manusia sebagai makhluk yang punya pikiran, akal, jasa, dan potensi harus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tertentu. Karena manusia punya atribut maka ia harus bertanggung jawab memanfaatkan atribut itu dan berusaha memperkembang orang lain, yang dalam hal ini ialah orang-orang yang berada dilingkungan kepemimpinan. Memang masyarakat yang terbaik terdiri dari individu yang dapat meningkatkan potensi mereka secara baik dan sempurna.
Idealisme kedua menunjuk pada pemanfaatan kuasa intelek untuk memecahkan permasalahan manusia. Sebagai pemimpin yang memiliki kelebihan dari anggota-anggota kelompok, sudah tentu memiliki kecakapan yang khusus dan itu dimanfaatkan untuk kepentingan bersama. Memang dalam setiap diri manusia terdapat emosi, yang seringkali amat mempengaruhi kuasa intelek, namun jika intelek dan emosi dapat berjalan bersama-sama dalam proses kepemimpinan akan menolong untuk memecahkan permasalahan dan untuk kesejahteraan manusia.
Idealisme ketiga menunjuk pada keyakinan atas kerjasama kelompok dalam usaha memecahkan berbagai macam masalah. Diharapkan semua anggota kelompok akan menyumbangkan pemikiran-pemikiran baru dan atas keterlibatan mereka dalam kesempatan ini akan menolong mereka lebih menyadari tanggungjawab mereka, meningkatkan dedikasi mereka melaksanakan tugas untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan yang demokratis selalu akan memainkan fungsi untuk mencapai tingkat prestasi yang lebih tinggi. Dua prestasi akhir yang selalu menjadi tujuan utama. Yang pertama agar masyarakat mengalami perubahan dan juga perbaikkan. Supaya tugas dapat terlaksana dengan baik, harus tercipta efisiensi kerja yang praktis. Sedangkan yang kedua menunjuk pada mereka yang bertugas melaksanakan pekerjaan. Diharapkan mereka sendiri telah mengalami perubahan. Mereka telah berhasil memanfaatkan tenaga kerjanya dengan baik, dan mereka sendiri telah memiliki pandangan dan pengertian yang lebih luas. Bilamana mereka telah dapat memperkambang potensi yang dimiliki oleh orang-orang lain. Dengan demikian, maka terpadulah satu kekuatan kerja, melaksanakan pekerjaan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam kepemimpinan yang demokratis sang pemimpin bertindak sebagai seorang anggota kelompok dalam menetapkan tujuan, memilih cara melakukan, dan membagi-bagi tugas kepada para pegawai. Dari sini tampak bahwa banyak kebijaksanaan yang datangnya dari bawahan. Bersama-sama anggota kelompok pemimpin bertanggungjawab untuk mencapai sukses. Di dalam corak kepemimpinan yang demokratis inilah adanya kemungkinan semua anggota dalam kelompok boleh turut berperan serta dalam mengambil keputusan penting. Kesatuan kerja pun tampak jelas, dan semuanya melaksanakan tugas penuh tanggungjawab.

B. Motivasi
Kepemimpinan yang demokratis merupakan bagian yang lebih disukai banyak orang. Tetapi model kepemimpinan semacam ini bukanlah timbul secara tiba-tiba. Bukan pula hal itu sebagai akibat kebijaksanaan yang dibuat oleh mereka yang sedang menduduki jabatan penting. Hal ini adalah suatu hasil motivasi yang lahir dari hati manusia, dan secara sadar menunjukkan prestasi kerja yang tinggi. Memang secara alamiah manusia memiliki motivasi yang tinggi, dan seorang pemimpin harus tahu betul akan hal ini. Seorang pemimpin yang berusaha menekankan pola kepemimpinan demokratis dalam pelayanannya punya keyakinan seperti yang tercantum di bawah ini:
1. Kesejahteraan kelompok terjamin atas dasar terpenuhinya kesejahteraan masing-masing individu.
2. Keputusan diambil melalui kerjasama. Keputusan bersama lebih kuat dan serasi, dibandingkan dengan keputusan perorangan.
3. Setiap buah pikiran didengar secara terbuka.
4. Setiap anggota kelompok dapat menyampaikan pendapat masing-masing.
5. Demokratis harus menjadi cara hidup.
6. Kemajuan datang dari dalam kelompok, bukan dari luar kelompok.
7. Metode demokrasi adalah yang lebih efisien.
8. Setiap orang tidak tergantung sama lain.
9. Saling mengisi dalam kelompok. Kasih sayang satu sama lain merupakan komponen penting dalam kepemimpinan di tengah masyarakat demokratis.

Monday, October 10, 2011

DAERAH PENGARUH

Metode-metode mempengaruhi seperti diatas dilakukan dalam banyak konteks, hal ini benarbila kita mendasarkan pada kenyataan bahwa O dan P dapat ditafsirkan sebagai kelompok maupun individual. Oleh karena itu, daerah pengaruh mencangkup hubungan-hubungan : Antar perseorangan, kelompok dengan seseorang, kelompok dengan kelompok, dan seorang dengan kelompok.

ELEMEN-ELEMEN PROSES MEMPENGARUHI

Proses mempengaruhi mencangkup 3 unsur : Orang yang mempengaruhi (O), metode mempengaruhi (), dan orang yang dipengaruhi (P). Secara singkat proses mempengaruhi dapat digambarkan sebagai O  P. Pada hakekatnya, O mempunyai empat sarana yang tersedia untuk mempengaruhi P. Diambil dari bentuk kekuasaan, sarana-sarana tersebut adalah kekuatan phisik, penggunaan sanksi (positif dan negative), keahlian dan kharisma (daya tarik). Kekuasaan phisik sebagai suatu sarana paksaan atau penggunaan kekerasan dan merupakan bentuk pengaruh paling kasar. Hal ini melibatkan ancaman atau penggunaan kekuatan nyata untuk mempengaruhi kegiatan dan mendsapatkan persetujuan.
Sanksi-sanksi positif dan negative adalah sarana sederhana untuk meenghargai atau menghukum. Penggunaan keahlian sebagai suatu wewenang juga dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu juga dapat mempengaruhi seseorang. Pengaruh daya tarik pribadi juga dapat mempengaruhi posisi atau kedudukan dalam suatu organisasi dan memungkinkan seseorang dipandang berkualitas dan berkepribadian oleh para anggota yang menempati kedudukan lebih bawah.

PENGARUH, KEKUASAAN DAN WEWENANG

Dari pendapat Scott dan Mitchell tersebut dapat disimpulkan bahwa pengertian pengaruh adalah kegiatan-kegiatan atau keteladanan yang baik secara langsung atau tidak langsung mengakibatkan suatu perubahan perilaku dan sikap orang lain atau kelompok. Sebagai contoh, seorang karyawan yang bekerja keras mungkin akan mempengaruhi orang lain untuk meningkatkan produktivitas mereka.
Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempunyai pengaruh. Mempunyai kekuasaan berarti mempunyai kemampuan untuk merubah perilaku atau sikap individu-individu lainnya. Dalam contoh diatas, orang yang bekerja keras akan mungkin mempunyai kekuasaan untuk mempengaruhi kelompok kerjanya bila dia merupakan orang yang mempunyai pengaruh di dalam kelompoknya. Wewenang adalah salah satu tipe kekuasaan. Hal ini didasarkan pada pengakuan secara sah atau menurut hukum atas suatu usaha untuk mempengaruhi.

PENGERTIAN PENGARUH

Menurut Scott dan Mitchell pengaruh merupakan suatu transaksi social dimana seorang atau kelompok orang digerakan oleh seseorang atau sekelompok orang yang lainnya untuk melakukan kegiatan sesuai dengan harapan. Sumber-sumber pengaruh untuk perseorangan atau kelompok dalam organisasi terdapat pada status jabatan, system pengawasan atau balas jasa dan hukuman, pengawasan finansial (anggaran), pemilikan informasi dan penguasaan saluran komunikasi.
Seseorang bersedia menjalankan permintaan orang yang dapat mempengaruhinya secara efektif karena merasa dirinya puas kalau memang dapat melaksanakan apa yang diminta oleh orang berpengaruh tersebut. Motivasi seseorang dapat bersifat dari tercapainya hasil-hasil yang maksimum, diperolehnya imbalan material atau perasaan disukai atau diterima oleh orang lain. Jadi, seseorang menjadi secara otomatis menuruti apa yang diminta oleh orang yang berpengaruh tanpa mengharapkan imbalan atau pamrih.

PROSES MEMPENGARUHI : WEWENANG DAN KEKUASAAN

PROSES MEMPENGARUHI : WEWENANG DAN KEKUASAAN

Suatu proses adalah setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh manajemen untuk mencapai tujuan - tujuan organisasi. Proses mempengaruhi, pengambilan keputusan, dan komunikasi adalah proses – proses manajerial karena secara nyata dilaksanakan oleh para manajer. Ketiga proses organisasi dan manajemen ini merupakan bagian vital system organisasi formal dan mempunyai implikasi – implikasi sangat penting terhadap perilaku organisasional.

Thursday, April 14, 2011

IBD KELOMPOK (BUDAYA MADURA)

1. PENGERTIAN BUDAYA
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia). Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
2. ASAL USUL KATA BUDAYA
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.
3. 7 KOMPONEN BUDAYA (MADURA) :
a. BAHASA (MADURA)
Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan Suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur kurang lebih 14 juta orang, dan terpusat di Pulau Madura, Ujung Timur Pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi,Kepulauan Kangean, Kepulauan Masalembo, hingga Pulau Kalimantan. Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura terpusat di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat, sedangkan di Kalimantan Tengah mereka berkonsentrasi di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibunda mereka.
KosaKata Bahasa Madura
Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia. Bahasa Madura banyak terpengaruh oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa sangat terasa dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda.
Contoh :
 bhila (huruf "a" dibaca [e] (info)) sama dengan bila = kapan
 oreng = orang
 tadha' = tidak ada (hampir sama dengan kata tadak dalam Melayu Pontianak)
 dhimma (baca: dimmah) = mana? (hampir serupa dengan dima di Minangkabau)
 tanya = sama dengan tanya
 cakalan = tongkol (hampir mirip dengan kata Bugis : cakalang tapi tidak sengau)
 onggu = sungguh, benar (dari kata sungguh)
 Kamma (baca: kammah mirip dengan kata kama di Minangkabau)= kemana?
Sistem Pengucapan Bahasa Madura
Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi. Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun demikian penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah. Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], [ə] dan [o].
Dialek-dialek Bahasa Madura
Bahasa Madura juga mempunyai dialek-dialek yang tersebar di seluruh wilayah tuturnya. Di Pulau Madura sendiri pada galibnya terdapat beberapa dialek seperti:
 Dialek Bangkalan
 Dialek Sampang
 Dialek Pamekasan
 Dialek Sumenep, dan
 Dialek Kangean
Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.
Contoh pada kasus kata ganti "kamu":
 kata be'en umum digunakan di Madura. Namun kata be'na dipakai di Sumenep.
 sedangkan kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
 Heddeh dan Seddeh dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.
Khusus Dialek Kangean, dialek ini merupakan sempalan dari Bahasa Madura yang karena berbedanya hingga kerap dianggap bukan bagian Bahasa Madura, khususnya oleh masyarakat Madura daratan.
Contoh:
 akoh: saya (sengko' dalam bahasa Madura daratan)
 kaoh: kamu (be'en atau be'na dalam bahasa Madura daratan)
 berrA' : barat (berre' dengan e schwa dalam bahasa Madura daratan)
 morrAh: murah (modhe dalam bahasa Madura daratan)
b. SENI (MADURA)
Madura merupakan pulau kecil yang kaya dengan kesenian dan budaya lokal, Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada masing-masing kabupaten tersebut mempunyai kekayaan dibidang seni yang berbeda-beda.
Kabupaten Sumenep sampai saat ini terkenal dengan kota budaya di Madura karena disan terdapat banyak jenis seni-budaya yang terus berkembang, misalnya tari, lludruk, macopat, topeng dan masih banyak yang lainnya. Bagi masyarakat Madura, bulan Agustus hingga September adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu, karena saat inilah mereka panen raya tembakau. Meskipun harga tembakau anjlok tetapi warga tetap mensyukurinya. Mereka menggelar pangelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas Madura hingga karapan sapi. Kembang api ini menandai dibukanya pangelaran seni yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya tembakau. Warga yang berkumpul di alun-alun Kota Pamekasan Madura, Jawa Timur, dihibur dengan aneka tarian yang diiringi dengan musik tradisional kas Pamekasan yang disebut musik dault. Musik ini merupakan musik tradisional yang kerap digunakan untuk membangunkan warga saat sahur tiba. Dalam pertunjukkan musik dault ini, seluruh pemain musik dan penari memakai topeng. Dalam tariannya, para penari membawa tong kosong. Tong ini melambangkan kritik pada pemimpin yang bisanya hanya bicara nyaring seperti tong kosong. Tarian lain yang dipentaskan adalah tari Samper Nyacek. Konon, tarian ini merupakan tarian para putri Keraton Sumenep yang mengambarkan kepedulian mereka terhadap petani. Tarian yang gerakannya berdasarkan gerakan menanam padi ini dilanjutkan dengan Tari Pecot, kas Kabupaten Bangkalan. Tarian ini juga melambangkan kehidupan petani saat bekerja di sawah. Pesta rakyat ini ditutup dengan karapan sapi yang digelar keesokan harinya. Dalam karapan sapi ini, gengsi para peternak sapi dipertaruhkan. Karena karapan sapi yang disebut Gubeng ini adalah yang terbesar.

c. TEKNOLOGI MADURA
Sudah sejak lama Madura telah menjadi pembicaraan masyarakat, sekalipun pulau yang satu ini tidak besar akan tetapi penduduknya mempunyai kepribadian yang khas dan menarik untuk dibicarakan. Bila bepergian di seantero kepulauan di Indonesia hampir dapat dipastikan kita akan bertemu dengan orang yang berasal dari Madura. Sosok orang Madura akan segera dikenal oleh siapapun karena mereka memang mempunyai ciri tersendiri, khususnya bila mereka berbicara. Penjual sate, soto, tukang potong rambut tradisional atau penjual barang bekas di mana-mana umumnya orang Madura. Oleh karenanya soto dan sate yang paling terkenal adalah soto dan sate Madura, saking terkenalnya ada juga sekalipun memakai label Madura akan tetapi penjualnya bukan orang Madura. Untuk mempertahankan hidupnya atau untuk mencapai tujuan hidupnya orang Madura tidak segan-segan melakukan ke tempat lain. Hal ini tidak saja mereka lakukan pada saat kini di mana transportasi sudah sedemikian majunya karena kemajuan teknologi akan tetapi sejak jaman kerajaan dan penjajahan Belanda mereka telah melakukannya, utamanya sebagai reaksi terhadap perlakukan penguasa pada saat itu. Rasanya tidak terlalu berlebihan mengapa mereka melakukan hal tersebut, karena mereka belajar agama di mana hijrah Muhammad SAW menjadi acuhannya. Sebagaimana orang agraris pada umumnya masyarakat Madura di perantauan selalu terikat pada tanah leluhurnya sehingga pada waktu-waktu tertentu pulang kembali ke Madura biasanya pada waktu Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Pada saat itulah lalu lintas penyeberangan feri menjadi padat sekali dalam waktu setidak-tidaknya selama seminggu. Tentu saja mereka datang dengan membawa uang dan barang di perantauan untuk dibagikan kepada sanak saudara di kampung halamannya. Uang ini mengalir ke kampung halaman pada waktu mereka pulang ada kalanya mereka yang telah berhasil di perantauan mengirim uang ke tempat asal kepada keluarga yang ditinggalkannya untuk keperluan konsumsi atau dipakai untuk modal kerja. Menabung merupakan salah satu kebiasaan orang Madura tidak saja dalam bentuk uang akan tetapi juga dalam bentuk perhiasan emas. Tabungan ini digunakan bukan saja untuk berjaga-jaga akan tetapi pada umumnya mereka gunakan untuk pergi haji ke tanah suci Mekah. Untuk pergi ke tanah suci mereka melakukan upaya sekuat tenaga karena kepergiannya adalah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebagaimana diwajibkan oleh Agama, dan masyarakat Madura yang lain memberikan penghargaan yang tinggi dengan menempatkan mereka yang pergi haji sebagai orang yang mempunyai status yang lebih dari masyarakat biasa. Kepergiannya akan dihantarkan dengan sebuah kebesaran dan kedatangan dielu-elukannya, mereka menganggap haji bukan hanya sebagai sebutan, lebih dari itu mereka dianggap sebagai orang suci. Teantu saja peristiwa ini menimbulkan kegiatan ekonomi yang besar, kalau kita pandai-pandai memanfaatkannya sebagai peluang.
d. MATA PENCHARIAN MASYARAKAT MADURA
Sudah sejak lama Madura telah menjadi pembicaraan masyarakat, sekalipun pulau yang satu ini tidak besar akan tetapi penduduknya mempunyai kepribadian yang khas dan menarik untuk dibicarakan. Bila bepergian di seantero kepulauan di Indonesia hampir dapat dipastikan kita akan bertemu dengan orang yang berasal dari Madura. Sosok orang Madura akan segera dikenal oleh siapapun karena mereka memang mempunyai ciri tersendiri, khususnya bila mereka berbicara. Penjual sate, soto, tukang potong rambut tradisional atau penjual barang bekas di mana-mana umumnya orang Madura. Oleh karenanya soto dan sate yang paling terkenal adalah soto dan sate Madura, saking terkenalnya ada juga sekalipun memakai label Madura akan tetapi penjualnya bukan orang Madura. Untuk mempertahankan hidupnya atau untuk mencapai tujuan hidupnya orang Madura tidak segan-segan melakukan ke tempat lain. Hal ini tidak saja mereka lakukan pada saat kini di mana transportasi sudah sedemikian majunya karena kemajuan teknologi akan tetapi sejak jaman kerajaan dan penjajahan Belanda mereka telah melakukannya, utamanya sebagai reaksi terhadap perlakukan penguasa pada saat itu. Rasanya tidak terlalu berlebihan mengapa mereka melakukan hal tersebut, karena mereka belajar agama di mana hijrah Muhammad SAW menjadi acuhannya. Sebagaimana orang agraris pada umumnya masyarakat Madura di perantauan selalu terikat pada tanah leluhurnya sehingga pada waktu-waktu tertentu pulang kembali ke Madura biasanya pada waktu Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Pada saat itulah lalu lintas penyeberangan feri menjadi padat sekali dalam waktu setidak-tidaknya selama seminggu. Tentu saja mereka datang dengan membawa uang dan barang di perantauan untuk dibagikan kepada sanak saudara di kampung halamannya. Uang ini mengalir ke kampung halaman pada waktu mereka pulang ada kalanya mereka yang telah berhasil di perantauan mengirim uang ke tempat asal kepada keluarga yang ditinggalkannya untuk keperluan konsumsi atau dipakai untuk modal kerja. Menabung merupakan salah satu kebiasaan orang Madura tidak saja dalam bentuk uang akan tetapi juga dalam bentuk perhiasan emas. Tabungan ini digunakan bukan saja untuk berjaga-jaga akan tetapi pada umumnya mereka gunakan untuk pergi haji ke tanah suci Mekah. Untuk pergi ke tanah suci mereka melakukan upaya sekuat tenaga karena kepergiannya adalah merupakan kewajiban yang harus dipenuhi sebagaimana diwajibkan oleh Agama, dan masyarakat Madura yang lain memberikan penghargaan yang tinggi dengan menempatkan mereka yang pergi haji sebagai orang yang mempunyai status yang lebih dari masyarakat biasa. Kepergiannya akan dihantarkan dengan sebuah kebesaran dan kedatangan dielu-elukannya, mereka menganggap haji bukan hanya sebagai sebutan, lebih dari itu mereka dianggap sebagai orang suci. Tentu saja peristiwa ini menimbulkan kegiatan ekonomi yang besar, kalau kita pandai-pandai memanfaatkannya sebagai peluang.

e. SISTEM AGAMA
Agama mereka sebagian besar adalah Islam dan sebuah minoritas kecil ada yang beragama Kristen.Suku Madura juga banyak dijumpai di propinsi lain seperti Kalimantan, di Sampit dan Sambas. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang dan dominan di pasar-pasar. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan, buruh, pengumpul besi tua dan barang-barang rongsokan lainnya. Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang keras dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin dan rajin bekerja. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan Larung Sesaji). Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa “Lebbi Bagus Pote Tollang, atembang Pote Mata”. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Tradisi carok juga berasal dari sifat itu.

f. SISTEM ORGANISASI
Organisasi MADURA BERSATU adalah merupakan wadah/forum komonikasi khususnya warga madura dalam skala nasional untuk saling menukar informasi dan bekerjasama membantu pemerintah mewujudkan masyarakat yang berpotensi disegala bidang.organisasi ini akan mendidik para anggota untuk mengedepankan intelektualitas dan membuang otoriter ataupun premanisme.sehingga imet warga madura dimata nasional menjadi warga yang disegani dan sebagai tauladan warga lain karena potensi yang dikembangkan didalamnya.kami yakin warga madura adalah berlian murni yang saat ini masih tumbuh dan berkembang secara alami.bila kita memoles dengan tehnologi dan intelektualitas maka warga madura akan menjadi orang-orang sukses dan tentunya patut untuk diperhitungkan.
Kita bias melihat,begitu banyak masyarakat madura yang sukses diseluruh Indonesia itu artinya masyarakat madura memiliki potensi baik di skala Pemerintahan ataupun di perdagangan dan perindustrian.permasalahan saat ini diantara yang sukses dengan yang berusaha untuk sukses belum ada yang menjembatani.karena itu MADURA BERSATU akan berusaha untuk menjadi penghubung antara masyarakat yang telah sukses dengan yang mau sukses.bahkan organisasi ini akan menjadi wadah keduanya agar terjadi saling mengisi dan mengangkat derajat ekonomi,sosial dan budaya .
Organisasi MADURA BERSATU bersama-sama dengan pemerintah dan segenap warga madura akan membangun serta mengembangkan potensi untuk mengentas kemiskinan dan pendewasaan demokrasi.
Oleh karena itu kami sangat mengharap kepada segenap warga madura untuk proaktif dan saling memberi informasi serta pemikiran untuk mewujudkan hal tersebut diatas.

g. SISTEM PENGETAHUAN
Tingkat pendidikan yang tidak terlalu tinggi, cenderung meninggalkan jenjang pendidikan tinggi dan melanjutkan ke Pesantren.